Connect with us


Ekonomi Global

AS-China Buntu, Harga Minyak Mentah Anjlok

Jakarta – Harga minyak mentah anjlok terkoreksi pada Kamis (21/11/2019). Hubungan AS-China kembali merenggang memunculkan kekhawatiran perlambatan permintaan minyak.

Pada 09.40 WIB, harga minyak mentah kontrak Brent turun 0,29% ke level US$ 62,23/barel. Di waktu yang sama harga minyak mentah acuan AS, West Texas Intermediate (WTI) juga turun 0,18% ke level US$ 56,91/barel.

Pergerakan harga minyak mentah digerakkan oleh faktor permintaan dan pasokan yang dipengaruhi oleh kondisi ekonomi dan politik global.

Dari sisi permintaan, kesepakatan dagang AS-China yang dikabarkan mundur hingga tahun depan memicu kekhawatiran permintaan minyak akan melambat dan membuat harga minyak tertekan.

Baca Juga :

Pembicaraan dagang antara AS-China tampak buntu, walau pun diskusi terus berlangsung dan dinilai berjalan konstruktif. Keyakinan ini diungkapkan Reuters melalui narasumber eksklusifnya yang berada di lingkaran Gedung Putih.

Tekanan China yang terus meminta agar AS menghapuskan lebih banyak tarif impor membuat pembicaraan mandek.

Bukan hanya itu, para pakar perdagangan dan sumber-sumber Reuters mengatakan negosiasi kini menjadi lebih rumit.

Trump menilai mengurangi bea masuk, seperti harapan China, membutuhkan kompensasi yang lebih besar.

 Sehingga harus ada hal yang lebih dari sekedar isu kekayaan intelektual dan transfer teknologi inti serta ekspor pertanian yang diajukan pemerintahan AS.

Pada 11 Oktober lalu, Presiden AS Donald Trump dan Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan bahwa kesepakatan dagang akan ditandatangani lima minggu dari pertemuan tersebut.

Tapi sayangnya hingga kini hal tersebut belum bisa terealisasi.

Sementara itu, dari pihak China, para pejabat mengatakan bahwa Presiden China Xi Jinping dan Trump mungkin akan menandatangani kesepakatan pada awal Desember.

Itu dikarenakan China berupaya memperoleh kesepakatan sebelum 15 Desember tiba.

Pada 15 Desember, AS telah menjadwalkan untuk menerapkan tarif impor baru pada barang-barang China senilai US$ 156 miliar. Barang-barang itu termasuk barang elektronik dan dekorasi Natal.

Banyak pihak percaya, jika kesepakatan fase satu dapat ditandatangani kedua negara sebelum 15 Desember, maka tarif baru itu akan batal dikenakan.

“Jika pembicaraan benar-benar berjalan dengan baik, kenaikan itu akan ditangguhkan,” kata Christian Whiton, seorang rekan senior untuk strategi dan perdagangan di Pusat Kepentingan Nasional, dan mantan penasihat administrasi Trump dan George W. Bush.

“Jika tidak, AS akan menerapkan (tarif)-nya dan itu akan membuat perang dagang berlanjut ke tahun depan.”

Menurut ahli strategi pasar AxiTrader Stephen Innes, pergerakan harga minyak memiliki korelasi positif dengan sentimen seputar hubungan dagang AS-China. Sehingga ketika sentimen negatif yang berhembus harga minyak berpeluang besar terkoreksi seperti pagi ini. (CNBCIndonesia)

Click to comment

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Advertisement